Berbicara tentang Kemiskinan

July 17th, 2010 by andips

Berapa jumlah masyarakat miskin di Indonesia? Dari perhitungan BPS, lebih dari 30 juta masyarakat Indonesia masih dalam keadaan miskin, baik di desa dan di kota. Sekitar 11 juta masyarakat miskin terdapat di perkotaan dan 20 juta berada di pedesaan. Di blog ini pengen cuap-cuap saja mengenai kemiskinan, terinspirasi acara Save The Nation tadi malam di Metro TV. Yah namanya juga cuap-cuap, saya nggak mo terlalu ribet urusan data.

Ada beberapa catatan menarik dari acara dialog semalam. Dialog tersebut dimoderatori oleh Anis Baswedan dan Frida Lidwina, menghadirkan Bambang Widianto (Deputi Seswapres Bidang Kesra), ekonom Hendry Saparini, anggota Komisi IV DPR RI Siswono Yudohusodo, dan Hendri Saragih (Ketua Umum Serikat Petani Indonesia). Cukup menarik acaranya, dimana Pak Bambang memaparkan program-program Pemerintah untuk mengatasi kemiskinan sementara Ibu Hendri Saparini mengatakan bahwa program-program Pemerintah untuk mengatasi kemiskinan tersebut dirusak dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah lainnya seperti liberalisasi perdagangan, liberalisasi perekonomian dan kenaikan TDL baru-baru ini.

Memang sepertinya Pemerintah belum mampu untuk mengatasi masalah kemiskinan. Program-program yang ada hanya bersifat karitas (charity) dan tidak produktif. Hendry Saparini mengatakan bahwa ada dua macam kemiskinan, yaitu miskin non-produktif, dan miskin produktif. Orang-orang miskin yang non produktif seperti jompo dan anak-anak terlantar, seharusnya menjadi tanggungjawab Pemerintah, sesuai amanat UUD 1945. Di sini Pemerintah dapat melaksanakan program karitas tadi. Orang-orang miskin produktif, seperti pengangguran seharusnya bisa distimulisasi agar dapat produktif. Pemerintah dapat membina mereka, lalu memberikan kemudahan pemodalan untuk menjadi entrepreneur. Dengan program stimulan tersebut, maka masalah pengangguran dan kemiskinan dapat diatasi sekaligus.

Politik Empati

Effendi Gozali, pengajar Ilmu Komunikasi Politik UI dalam koran Kompas (16/07/2010), mengatakan bahwa politik empati politisi mati. Para politisi lebih cenderung untuk mengamankan dirinya dengan cara tidak melawan kebijakan penguasa. Politisi pun cenderung melindungi posisi untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok.

Politisi sekarang sebagian besar menjalankan politik pragmatis, dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat kecuali pada masa reses. Bahkan aleg sebuah partai jelas-jelas ingin menjadi menteri di kabinet dan menganggap amanah menteri sebagai puncak tertinggi dalam karir politiknya (mungkin visinya baru sampai tingkat menteri bukan presiden).

Memang dipertanyakan di mana para politisi dalam menyelesaikan permasalahan bangsa? Bahkan saya belum melihat para politisi yang memberikan perhatian penuh terhadap solusi kemiskinan. Bahkan untuk memberi daya tekan kepada Pemerintah, belum terlihat hasilnya. Yang ada malah ikut-ikutan menaikkan TDL yang ternyata dipermasalahkan di belakang hari oleh para pengusaha terutama UMKM.

Kapan kemiskinan akan berakhir di Indonesia? Mungkin harus mencontoh Umar bin Abdul Aziz di mana beliau kebingungan untuk menyalurkan zakat dari warganya karena tidak ditemukan orang miskin. Atau bahkan ada sejarah bahwa di suatu daerah pada waktu salah satu kekhalifahan justru yang paling miskin adalah gubernurnya!! Bisa dilihat bahwa membutuhkan good will dari pemerintah sendiri untuk mengentaskan kemiskinan. Komponen masyarakat, LSM, NGO, CSR, dll hanya sebagai unit pendukung saja. Tanpa ada keseriusan dari Pemerintah, sampai kapanpun kemiskinan tidak akan enyah dari bumi Indonesia.

Semoga bermanfaat…

Sekolah untuk Anak Saya Nanti

July 17th, 2010 by andips

Mungkin masih sekitar empat atau lima tahun lagi anak pertama saya akan sekolah di suatu SD atau yang setingkat dengannya. Saya belum bisa membayangkan bagaimana sekolah anak saya nanti dan berapa biayanya. Ayah dan Bundanya hanya bersepakat untuk memotivasi agar ia menjadi seorang hafidzoh dan Ayah-Bundanya juga berusaha keras untuk menjadi hafidzoh lebih dahulu.

Apapun cita-citanya, kami hanya bisa mendukung dan menyediakan jalannya. Wajib hukumnya kami menyediakan kebutuhan pendidikannya. Memang pendidikan sekarang memang mahal meskipun sudah dibantu dana ini-dana itu. Namun rezeki di tangan Allah. Dan kami sebagai orang tua harus bisa kreatif menjadi madrasah pertama untuknya

Menurut saya (teman-teman boleh berpendapat lain koq), pendidikan Indonesia koq semakin ruwet saja. Meskipun beberapa program sangat bagus, tapi pelaksanaannya kurang memuaskan seperti pendaftaran online kemarin. Saya senang sekali sehingga para guru nggak usah repot-repot ngantri di sekolah untuk melihat apakah anaknya diterima atau tidak. Cukup dari internet dan datang untuk registrasi ulang. Tapi sistemnya malah down sehingga terjadi keterlambatan.

Pungutan-pungutan pun marak terjadi. Misalnya uang gedung (sampai ada ortu murid bertanya,”Koq tiap tahun ada uang gedung?”) sehingga saya kira siswa itu seperti menyewa gedung selama dia sekolah di situ. Lalu tentang embel-embel sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, seolah-olah menjadi daya jual sendiri. Padahal, persyaratan sekolah bertaraf internasional antara lain level pendidikan semua gurunya minimal S2. Baru punya satu guru level S2 sudah berani mengatakan sekolah bertaraf internasional.

Ada cita-cita juga untuk menyekolahkan anak-anak ke sekolah Islam Terpadu (IT). Namun juga perlu teliti, apakah benar-benar mengajarkan Islam secara terpadu atau hanya latah menggunakan label IT untuk menjaring peminat. Kenyataannya memang sekolah berlabel IT hampir semuanya sudah mahal meskipun saya nggak berani bilang mereka komersil.

Komersialisasi Pendidikan

Banyak orang bilang saat ini komersialisasi pendidikan sangat marak. Akses dan kesempatan pendidikan semakin mahal. “Harga nggak bisa bohong. Ingin pendidikan berkualitas, harganya juga “berkualitas,” begitu kata orang. Lha pendidikan kan hak asasi manusia, semua berhak mendapatkan.

Namun kemarin saya berbincang dengan seorang teman. Sekolah yang baik adalah sekolah yang lebih banyak mengajarkan PENGALAMAN kepada siswa dibandingkan tutorial satu arah. Nah kalau pakem ini, insya Allah saya tinggal menambahkan pengalaman saya dan istri, dan suatu saat nanti membagikan pengalaman ini kepada anak saya. Anak-anak saya akan belajar dari kehidupan sekitar mereka, seperti kehidupan Ayah-Bundanya, mengeksplorasi sekitar mereka, belajar mengungkapkan pendapat, dan lain-lain.

Ya, Allah akan Memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang terus berusaha. Semoga Aisyah (dan adik-adiknya kelak, insya Allah) bisa terlebih dahulu belajar mengenal Allah, dan Rasul-Nya serta agamanya, Islam. Amin.

Nasib Penarikan Pajak Indonesia–Apa Kata Dunia?

April 8th, 2010 by andips

Wah menarik nih, mengenai markus pajak yang tertangkap lalu bersedia “berbunyi” untuk membongkar kasus mafia pajak lainnya. Kemarin SBY pun mendadak memanggil jajaran Polri, dan menterinya setelah menerima laporan dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaski Keuangan) karena disinyalir ada satu mantan pejabat yang memiliki rekening dengan besar yang tidak wajar.

Ya, bagaimana mungkin SBY tidak kebakaran jenggot menghadapi hal ini. Jika tingkat kepercayaan masyarakat semakin turun terhadap Ditjen Pajak, maka negara akan berpotensi kehilangan ratusan triliun rupiah dari sektor pajak.

Saya sempat mual ketika melihat iklan direktorat pajak dengan slogannya “tidak bayar pajak, APA KATA DUNIA?” lalu mengingat kasus GT. Mungkin saja saya tidak sendiri.

Saya pun punya teman-teman di ditjen pajak. Alhamdulillah mereka orang yang insya Allah soleh/ah. Mereka berusaha keras untuk memperbaiki kinerja ditjen pajak dan dengan reformasi yang dilakukan Menkeu saat ini, menurut pendapat para ahli, reformasi Depkeu merupakan reformasi birokrasi terbaik di negeri ini saat ini.

GT dan kroco-kroconya memang ada dan mungkin banyak. Dan orang-orang yang baik pun saya anggap lebih banyak di ditjen pajak. Kejadian GT seharusnya bisa dioptimalkan pemerintah untuk mengungkap skandal pajak di negeri ini sampai ke akar-akarnya.

Pra-Renstra di Long Weekend

December 18th, 2009 by andips

Waduh, ada pra-renstra di long weekend nih. Padahal sudah ada rencana buat. Ya beginilah bekerja di LSM yang sangat sibuk ketika sudah mendapatkan kepercayaan publik dan sektor korporat.

Ada tiga long weekend yang dateng beruntun. Hari ini tanggal 18/12/09 sampai tanggal 20/12/2009, tanggal 25/12/09 - 27/12/09 dan 01/01/10 - 03/01/10.

Namun sayang kayaknya saya juga nggak bisa ke mana-mana. Ada pra-renstra dan nanti ada renstra lembaga…

Masih Ingat Korban Gempa?

December 14th, 2009 by andips

Dua gempa bumi, yang melanda Jawa Barat dan Sumatera Barat, dalam rentang kurang dari satu bulan, telah meluluhlantakkan infrastruktur. Ribuan rumah, ratusan sekolah, sarana kesehatan, gedung-gedung, rumah ibadah, hampir rata dengan tanah. Korban jiwa pun berjatuhan dan pengungsi terpaksa tinggal di tenda darurat atau hunian darurat lainnya seperti ICS (Integrated Community Shelter) yang digagas ACT Foundation dan diikuti oleh lembaga lainnya.

Namun, apakah penderitaan yang masih dialami pengungsi korban gempa terdengar di media nasional? Jawabnya, hampir nol. Saat ini media lebih suka mengupas Century Gate, konspirasi pembunuhan Nasrudin, dan masih banyak lagi. Namun bisa dibilang, tidak ada yang mengupas masalah rekonstruksi dan pemulihan gempa di Jawa Barat dan Sumatera Barat.

Dari informasi yang saya peroleh dari teman-teman, Pemda Sumatera Barat, terutama pemkot dan pemkab yang daerahnya dilanda gempa, tidak memiliki blue print pembangunan kembali wilayahnya secara terpadu. Dikhawatirkan pembangunan yang dananya menelan sekitar Rp. 20 T itu akan mubazir dan tidak jelas. Dikhawatirkan pula, anggaran tersebut cuma menjadi rebutan proyek NGO2 dari luar negeri.

Yah, semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita mengenai pengungsi korban gempa di kedua wilayah itu.

Gantian, Bunda Dinas Luar

December 10th, 2009 by andips

Wah, setelah sekian lama saya yang berdinas luar, sekarang gantian Bunda yang kudu dinas ke Tanjung Jabung Timur, somewhere in Jambi. Alhamdulillah dinas luarnya ke Jambi, jadi Kakak bisa dititipkan di rumah Nenek dan Gaeknya.

Rencananya Bunda dinas luar 3-4 hari. Jadi kemungkinan pulang tanggal 13 Desember 2009. Tapi kata Bunda, kalo orang pemdanya susah ditemui bisa semingguan. Waduh, bisa kangen berat nih sama Bunda dan Kakak.

Goodluck ya Bunda, semoga Allah Memberikan kekuatan buat Bunda. Titip salam buat Kakak ya. Oh iya salam juga buat Mamak, Ayah, Kak Ita, Bang Jumadi, Fadly, Hana, dan Syifa.

Pulang Hari Senin?

November 20th, 2009 by andips

Alhamdulillah dapat kabar kalo saya ditarik pulang ke Jakarta dulu. Memang seperti yang saya harapkan. Insya Allah hari Senin saya pulang ke Jakarta. Sebetulnya sih banyak sukanya kerja di Padang. Dukanya sedikit doang. Dukanya sudah jelas kangen sama Bunda dan Kakak.

Hari-hari terakhir masih ada yang harus dibereskan. Seperti meliput kegiatan trauma healing di Agam dan Padang Pariaman. Mengawasi pemasangan spanduk dan baliho di Padang juga harus tetap jalan.

Kemarin kebanyakan pekerjaan adalah pendampingan mitra ke lapangan. Ada Telkomsel, NEC, Salam Malaysia, ada juga dari Yayasan Cahaya Ibu, dan masih banyak lagi. Banyak pihak ingin membantu masyarakat Sumbar, tinggal bagaimana masyarakat Sumbar dan pemdanya bisa memanfaatkannya untuk kebaikan mereka sendiri.

Selain itu, banyak juga NGO asing yang ingin masuk. Terutama gelontoran dana dari Pemerintah yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah untuk recovery Sumatera Barat. Yah pokoknya kita bekerja yang terbaik untuk masyarakat Sumbar.

Istirahat dulu deh. Ba’da subuh besok kudu berangkat…

Dari Tandikat ke Padang Pake Motor…

November 9th, 2009 by andips

Ini dia termasuk pengalaman tak terlupakan ketika saya berada di Sumatera Barat. Melakukan perjalanan di malam hari setelah hujan (so pasti dingin) dari Tandikat ke Padang. Tapi hal ini bukan hal baru di relawan ACT, karena sudah ada yang pernah melakukannya. Tapi buat saya, ini pengalaman yang berharga :D.

Ceritanya tim relawan yang di posko logistik memerlukan motor untuk memasang lebih dari 100 spanduk dalam jangka waktu 4 hari. Waktu itu target yang saya berikan kepada mereka. Jadi dalam satu hari, minimal mereka memasang 25 spanduk. Akhirnya mereka menyewa satu unit motor bebek untuk mendukung operasi pemasangan.

Sayangnya motor itu dipakai seorang relawan ke Tandikat, bensinnya habis, dan yang bawa nggak tahu cara buka tangkinya. Akhirnya dari Tandikat dia membawa motor Kawasaki KLX 150 ke Padang. Ternyata, dia ditugaskan ke wilayah Pandan, di pinggir danau Maninjau atau Kabupaten Agam di malam ketika jadwal pemasangan spanduk tiba.

Alhamdulillah saya bertemu dengan relawan tersebut di Ambung Kapur, tidak terlalu jauh ke Tandikat melalui jalur pintas. Akhirnya kami berdua berboncengan ke Tandikat menggunakan motor KLX itu. Sempat kehujanan, sehingga kita memutuskan untuk sholat maghrib di suatu mushola karena hujan semakin deras. Alhamdulillah hujan reda setelah sholat maghrib.

Tandikat ke Padang

Sampai di Posko Tandikat tidak ada orang karena tim sedang distribusi logistik. Relawan tersebut mempersiapkan tasnya, saya segera mempersiapkan motor yang akan saya bawa ke Padang.

Selesai cek kondisi (alhamdulillah bensin 1 bar di bawah full, tapi diperkirakan cukup untuk sampai Padang), saya segera berangkat ke Padang melalui jalan baru.

Karena sedang mati lampu, kondisi jalan gelap total. Jalan pun tidak sepenuhnya hotmix. Ada beberapa titik masih belum diaspal dan setidaknya ada dua jembatan masih pakai kayu. Akhirnya saya pilih jalur Tandikat-Sicincin-Padang dengan alasan tidak perlu memutar ke kota Pariaman.

Ketika sampai Simpang Manggala di dekat pasar Sicincin, jalanan sudah mulai mulus. Namun harus berhadapan dengan truk. Karena tidak pakai kacamata, air mata terus terkuras. Pedih nian terkena debu-debu dari mobil dan truk yang lewat. Namun, Alhamdulillah pengalaman bolak balik dari Ciputat ke Depok cukup membantu. Tarikan motor pun nggak jelek-jelek banget, jadi bisa menyusul mob il atau truk yang rada lelet.

1 Jam Perjalanan

Berangkat dari Tandikat sekitar pukul 19.00, tiba di kantor Padang pukul 20.15. Lumayan juga bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Tapi kepala sempet migran dan badan rasanya remuk karena kemasukan angin. Sayang, relawan yang bisa bekam sudah pulang semuanya. Kalaupun ada di daerah bencana, cuma Mas Kukuh yang ada. Itu juga di Maninjau dan bekam pakai gelas atau bekam kering.

Yah alhamdulillah bisa selamat dan menjadi pengalaman berharga bermotor ria dari Tandikat ke Padang. Mengingat supir angkot di sini nggak beda jauh sama di Jakarta meskipun lebih ndableg.

Tetap semangat!!!

Potong Sapi Lagi

November 8th, 2009 by andips

Alhamdulillah warga ICS di Ambung Kapur bisa menikmati kembali daging sapi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT karena telah menempati ICS. Satu ekor sapi telah disembelih tadi pagi oleh bapak-bapak dan para pemuda di ICS. Ibu-ibu dan para remaja putri memasak nasi dan mengolah daging menjadi berbagai masakan seperti rendang.

Mondar-mandir Mode : On
Kayaknya bakal mondar-mandir Padang-Ambung Kapur. Besok pagi kudu ke Padang lagi buat pesen spanduk dan bendera. Lalu hari Selasa sepertinya mengisi training TOT buat pendamping masyarakat di SD Ambung Kapur. Materinya seperti biasa, Fundraising.

Lalu ada sebuah brand es krim ingin mengadakan acara bermain dengan anak-anak di ICS pada hari Sabtu. Otomatis musti lobi sekolah, wali jorong, dan banyak orang.

Sementara itu posko utama di Jl. Adinegoro sudah kosong. Semalem mo ke sana tapi dikunci. Ternyata Dodi titip ke Pak Ali dan tidak memberitahu saya. Alhasil, saya menginap di kantor.

Duren Party

Yang paling sering di sini adalah pesta duren. Waktu di Maninjau, mungkin ada 10 duren dibelah untuk disantap bersama. Duren memang lagi musim di Sumatera Barat. Dan harganya cukup murah. Seorang ibu yang mewakili perusahaannya untuk mengunjungi daerah bencana bersama ACT sempat membeli duren seharga Rp. 10 ribu/3 buah.

Perwakilan mitra ACT dari Jember juga sangat menikmati pesta duren. Salah seorang dari mereka malah seperti layaknya ahli duren, tahu bagaimana rasa duren tersebut sebelum dibuka.

Yah, pokoknya bisa menikmati alam Ranah Minang disela-sela pekerjaan yang terus dikejar deadline seperti pasang spanduk, kirim berita dan foto, dll…Semangat lah yaauuuu

Dari Tanah Kelahiran Buya Hamka

November 6th, 2009 by andips

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan Allah SWT untuk mengunjungi tempat kelahiran Buya Hamka di Maninjau. Beliau adalah seorang ulama besar dari Sumatera Barat. Beliau salah satu ulama berpengaruh dari Muhammadiyah, sebuah ormas Islam besar di Indonesia.

Selain tanah kelahiran Buya Hamka, Maninjau dengan danaunya ternyata daerah yang sangat indah dan eksotik. Belum banyak aktivitas pariwisata di sana sehingga saya rasakan aroma orisinil wilayah Maninjau. Mungkin saja pemda setempat tidak terlalu mengeksplorasi potensi wisata di sana.

Alhamdulillah relawan ACT di sana dapat merangkul warganya termasuk para wali jorong, dan alim ulama, sehingga program ACT dapat diterima dan mereka bersedia untuk membantu kegiatan ACT. Perlu diketahui, sebagian daerah Maninjau dikelilingi lereng batu. Beberapa titik sangat rawan sehingga sebagian penduduknya perlu direlokasi. Dari keterangan seorang guru di sana, dari 179 KK, saat ini tinggal 30 kk yang masih bertahan di sana.

Pemandangan sekitar danau Maninjau sangat indah. Hamparan air danau yang luas, karamba-karamba yang berisi ikan-ikan budidaya, seperti ikan Mas dan ikan Nila. Teman-teman bisa bersampan sambil menikmati keindahan alamnya. Airnya juga bersih sehingga kita bisa berenang di dalamnya.

Jangan lupa menyantap ikan khas danau Maninjau. Antara lain ikan Bada dan ikan Rinyo (atau ikan apa ya?). Rasanya sangat gurih. Ada juga sejenis udang yang kita sebut “lobster Maninjau”. Lobster itu agak sulit makannya karena cangkangnya sangat keras.

Jangan lewatkan pula kunjungan ke Museum Buya Hamka. Museum tersebut awalnya rumah kelahiran Buya Hamka. Menurut cucu beliau, Bapak Hanif, yang sekaligus pengurus museum tersebut, semasa kecilnya, Buya adalah anak yang kehidupannya sangat bahagia. Terlihat dari layang-layang Buya yang dipamerkan di museum itu. Memang bukan layangan asli zaman Buya, tapi re-make dari layangan beliau yang pernah ada difoto. Menurut Pak Hanif, layangan itu pun bisa diperbanyak dan dijual kepada pengunjung museum.

Di seberang museum terdapat rumah yang menjual buku-buku karya Buya Hamka dan juga karya-karya penulis Balai Pustaka seperti Marah Roesli. Alhamdulillah saya menemukan buku Tambo Alam Minangkabau karya H. Datoek Toeah. Menariknya, H. Datoek Toeah aslinya adalah pedagang. Ketika keluarganya mendesak beliau untuk menjadi penghulu di kampungnya, beliau tidak segera menyetujuinya. Tapi beliau belajar kembali adat dan sejarah Minangkabau, mengkompilasinya lalu baru beliau menerima tawaran penghulu tersebut. Kompilasi beliau menjadi sebuah buku tersebut. Yang saya beli adalah cetakan XII.

Selain itu saya juga membeli beberapa karya Hamka antara lain Di Bawah Naungan Ka’bah, Merantau ke Deli, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Semoga bisa menemani kegiatan-kegiatan saya selama di Sumatera Barat.